3 Februari 2012

Menyorot Perayaan Valentine’s Day

Oleh: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.

Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan momen terpenting bagi para pemuja nafsu.

Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah “Valentine’s Day” (Hari Kasih Sayang?).

2 Februari 2012

Mungkin Dulu Aku Salah Kriteria

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir al-Jakarty


Mungkin dulu aku salah kriteria ucap salah seorang istri yang menyesal karena dulu kurang memperhatikan kriteria agama dalam memilih calon suaminya, ketika itu dia lebih mengedepankan kriteria kemapanan untuk calon suaminya. Apa yang dialaminya mungkin tidak separah apa yang pernah kita dengar atau bahkan saksikan dari kisah-kisah yang memilukan dari seorang istri yang hidup bersama suami yang tidak shalih. Bahkan di sana ada salah seorang wanita yang telanjur memilih laki-laki yang tidak shalih menjadi pendamping hidupnya, yang akhirnya membawa kejelekkan dan bahaya bagi wanita tersebut di dunia dan akhirat, bahkan tidak cukup sampai di situ orang tua dan adik serta kakaknya pun sedikit banyak mendapat imbas dari suaminya tersebut -hanya kepada Allah-lah kita mengadu -.

1 Februari 2012

Ucapan ‘Malaikat Kecilku’ Kepada Anak Wanita

Kita biasa mendengarkan seorang ayah atau ibu berkata tentang anak wanitanya dengan mengatakan ‘malaikat kecilku’. Dan tidak jarang kita mendengarkan ucapan ini dari seorang yang beragama Islam.
Akan tetapi tahukah anda bagaimana sebenarnya Islam memandang ucapan seperti di atas?

Berikut penjelasannya secara ringkas:
Menyebut atau memanggil anak wanita dengan ucapan ‘malaikat kecilku’ bukanlah termasuk dari kebiasaan kaum muslimin dari zaman dahulu sampai belakangan, dan sama sekali bukan termasuk dari adab Islam terkhusus dalam perkara memuliakan para malaikat. Karenanya ucapan ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang muslim.

Dalam artikel ‘Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat’ telah kami sebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menamakan atau menyebut seseorang dengan nama malaikat. Dan di sana kita sebutkan bahwa yang lebih utama adalah menggunakan nama yang lain selain nama malaikat. Maka kalau bernama dengan nama para malaikat saja itu lebih utama ditinggalkan, maka bagaimana lagi jika langsung menyebut seseorang atau anak itu dengan penyebutan ‘malaikat’, maka ini lebih utama untuk dijauhi.

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

Pertanyaan:
Bolehkan orang yang dikubur disifati dengan kalimat: ‘Memasuki tempat peristirahatan terakhirnya’ atau kalimat-kalimat semacamnya?

Jawab:
Kita baru saja mendengar kabar-kabar orang yang meninggal yang disiarkan oleh sebagian radio-radio Arab, yaitu dengan menyebutkan nama-nama orang yang meninggal tersebut. Misalnya dalam hal ini dikatakan: Telah meninggal fulan bin fulan dan seterusnya, dan dia akan dibaringkan di tempat peristirahatan terakhirnya pada jam sekian pada hari sekian.
Sudah dari dahulu saya sudah memberikan catatan terhadap ucapan ini dan terkadang saya mengingatkan bahwa ungkapan semacam ini ‘peristirahatan terakhir’ bukanlah termasuk dari ungkapan-ungkapan syar’iyah. Hal itu karena ungkapan seperti ini bisa keluar dari mulut seorang mukmin yang beriman akan adanya kebangkitan dan bisa juga keluar dari mulut seorang mulhid (kafir) yang tidak mengimani adanya kebangkitan.

Untuk ikhwan atau teman-teman yang suka menebarkan fitnah atau suka berdebat di Facebook

Pertanyaan:
Apa nasehat Ustadz untuk ikhwan atau teman-teman yang suka menebarkan fitnah atau suka berdebat di Facebook?

Al Ustadz Luqman Ba’abduh:

Nasehat ana yang pertama, jauhilah Facebook, tinggalkan Facebook.