Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani
Sesungguhnya termasuk perkara penting yang harus selalu kita ingat
adalah wasiat-wasiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam.
Diantaranya yaitu wasiat perpisahan yang beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam sampaikan kepada para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka
seluruhnya-. Dikisahkan oleh ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu
sebagai berikut:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ
يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً
ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ
قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ
فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: ((أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ
وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ
مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ))
Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sholat
bersama kami, kemudian beliau memberi kami sebuah peringatan yang sangat
baik. Oleh karenanya, mata-mata kami berlinang dan hati-hati kami
bergetar. Maka seorang berkata: “wahai Rosulullah! Seolah-olah ini
adalah peringatan orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau
pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda: “Aku berwasiat kepada
kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar, dan taat (kepada penguasa
kalian) walaupun dia seorang budak Habsyi. Sesungguhnya barangsiapa
yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat
perselisihan yang cukup banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang
dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa` Ar-Rosyidin Al- Mahdiyyin (para
khalifah yang terbimbing lagi mendapat petunjuk). Berpegang teguhlah
dengannya dan gigitlah atasnya dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan
berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru dalam agama. Karena
sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah
itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh kami
Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rohimahullah dalam kitabnya ”Al Jami’us Shohih
mimma laisa fis Shohihain” 1/198-199 Cet. Daarul Atsaar Yaman)