21 April 2012

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menilai Sosok Mbah Maridjan

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty

Selain meletusnya gunung merapi kematian mbah maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir-akhir ini, dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai “kuncen” gunung merapi disamping mbah maridjan meninggal menjadi korban meletusnya gunung merapi. Apalagi konon meninggalnya dalam keadaan sujud. Tak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, atau karena keberaniannya dan pujian-pujian lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar diatas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang haq (benar) ba’da taufiqillah (setelah hidayah taufiq Allah) menilai sosok mbah maridjan. Insya Allah penjelasan sederhana dibawah ini menjadi penjelas bagi kita bagaimana kita menilai seorang mbah maridjan.

Ternyata Istri Saya Sudah Tidak Perawan, Apa yang Harus Saya Lakukan?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya:

س : إذا تزوج بنتا وبعد الدخول عليها لم يجدها بكرا فماذا يفعل ؟

ج : هذا له أسباب ، قد تكون البكارة ذهبت بأسباب غير الزنا ، فيجب حسن الظن إذا كان ظاهرها الخير ، وظاهرها الاستقامة ، فيجب حسن الظن في ذلك ، أو كانت قد فعلت الفاحشة ثم تابت ، وندمت وظهر منها الخير ما يضره ذلك ، وقد تكون البكارة زالت من شدة الحيض ، فإن الحيضة الشديدة تزيل البكارة ، ذكره العلماء وكانت تزول البكارة ببعض الوثبات ، إذا وثبت من مكان إلى مكان ، أو نزلت من محل مرتفع إلى محل سافل بقوة قد تزول البكارة ، فليس من لازم البكارة أن يكون زوالها بالزنا ، لا ، فإذا ادعت أنها زالت البكارة في أمر غير الفاحشة ، فلا حرج عليه ، أو بالفاحشة ولكنها ذكرت له أنها مغصوبة ومكرهة ، فإن هذا لا يضره أيضا ، إذا كانت قد مضى عليها حيضة بعد الحادث ، أو ذكرت أنها تابت وندمت ، وأن هذا فعلته في حال سفهها وجهلها ثم تابت وندمت ، فإنه لا يضره ، ولا ينبغي أن يشيع ذلك ، بل ينبغي أن يستر عليها ، فإن غلب على ظنه صدقها واستقامتها ، أبقاها وإلا طلقها مع الستر وعدم إظهار ما يسبب الفتنة والشر . 


Pertanyaan: Jika seseorang menikahi wanita yang ternyata setelah melewati malam pertama baru dia ketahui bahwa istrinya sudah tidak perawan lagi, apa yang harus dia lakukan?

19 April 2012

PELET DALAM TINJAUAN SYARIAT ISLAM

Oleh : Abu Ibrohim Abdullah bin Mudakir Al-Jakarty

Pelet adalah sebuah istilah yang ma’ruf di masyarakat kita, tapi sayangnya banyak orang yang tidak mengetahui hakekat dan hukumnnya.

Oleh karena itulah saya berusaha dengan memohon pertolongan kepada Alloh untuk menuangkan kesederhanaan ilmu saya pada artikel ini.

Dalam bahasa arab yang sesuai dengan pengertian pelet yang kita kenal adalah, “At Tiwalah” tiwalah sebagaimana di definisikan oleh syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwasannya hal itu dapat menimbulkan kecintaan istri kepada suaminnya atau suami kepada istrinya. (Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab : 77). Jadi apapun namanya baik tiwalah, mantra – mantra pengasih ataupun yang lainnnya, kalau hakekatnya sama maka hukumnya sama.

Jadi… apa sih hukumnya pelet?

17 April 2012

Perkataan ” Dewi Fortuna Tidak Bersama Kita”

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al – Jakarty

Mungkin diantara kita pernah mendengar atau sering mendengar salah seorang berkata ” dewi fortuna tidak bersama kita ” perkataan yang singkat tapi tidak sesingkat hukum dan konsekuensinya. Insya Allah pada tulisan sederhana ini kami ingin menjelaskan tentang sangat berbahayanya perkataan ini bagi aqidah seseorang. Kami awali tulisan ini dengan menghadirkan sebuah hadist yang semoga menjadi renungan kita bersama, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairoh, Abu Hurairoh Radiyallahu ‘Anhu berkata : ” Saya mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Seorang hamba berbicara dengan sesuatu kalimat yang tidak ada kejelasan di dalamnya yang membuat nya terprosok masuk kedalam neraka yang jaraknya antara timur dan barat ” ( HR. Bukhari dan Muslim ) diantara bentuk perkataan yang sangat berbahaya adalah perkataan ” dewi fortuna tidak bersama kita “, perkataan ini sangatlah berbahaya karena perkataan kesyirikan dengan syirik yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam, Naudzubillah…!!!

Mungkin ada yang bertanya dari sisi mana dikatakan perkataan kesyirikan … ??? maka kita katakan, semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman terhadap agama ini. Dikarenakan perkataan ” dewi fortuna tidak bersama kita ” Sebuah perkataan yang menyandarkan yang memberikan manfaat atau keberuntungan kepada selain Allah…., bukankah yang memberikan manfaat atau keberuntungan dan yang menolak kemudhorotan atau bahaya hanyalah Allah semata …. !!! bukankah itu merupakan kekhususan Rububiyah Allah …. !!! Bukankah Allah berfirman menjelaskan tentang hal itu

15 April 2012

Pelajaran dan Nasehat dari Peristiwa Bentrokan Berdarah di Kuburan “Mbah Priok”

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Priuky

Sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan yang terjadi pada hari rabu kemarin di tanjung priok tepatnya didaerah koja, peristiwa bentrokan antara satpol PP dan masa tak sedikit yang menjadi korban baik dari satpol PP ataupun masyarakat umum, baik yang luka – luka bahkan ada yang sampai meninggal, Sebuah fenomena yang membuat hati sedih dan dada terasa sesak melihat kejadian itu, hanya karena persoalan kuburan yang di keramatkan, antara satpol PP yang ingin membersihkan bangunan gapura kuburan dan bangunan liar yang ada disekitar kuburan dan massa yang memahami bahwa satpol PP akan menggusur kuburan “Mbah Priok” yang dikeramatkan. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari realita kejadian bentrokan berdarah itu, oleh karena itulah tulisan ini hadir insya Allah sebagai sebuah renungan dan nasehat untuk kaum muslimin atas kejadian bentrokan berdarah dikuburan “Mbah Priok”.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ

” Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung “ (Qs. Ali Imran : 104)